Dua Prestasi Fenomenal untuk Semangat Indonesia di ASIAN GAMES 2018

Dunia olahraga tak pernah sepi dari inspirasi. Olahraga selalu mengajarkan kita untuk selalu mempersembahkan kemampuan terbaik kita. Mengerahkan kemampuan maksimal yang kita miliki untuk menjadi seorang pemenang. Semangat pantang menyerah dan percaya bahwa kita bisa.

asiangames1

Menyambut Asian Games 2018 kali ini terasa istimewa. Bukan saja karena Indonesia dengan bangga terpilih sebagai tuan rumah. Tetapi Asian Games kali ini saya yakin akan lebih meriah karena gelaran Asian Games 2018 sudah diawali dengan kemeriahan event piala dunia 2018 di Rusia.

Dari gelaran piala dunia tentu banyak momen-momen bersejarah yang akan dikenang para pecinta olahraga khususnya sepakbola. Kemenangan mengejutkan Korsel atas Jerman, kegagalan tim-tim besar seperti Argentina, Brazil dan yang lainnya, juga berbagai aturan baru di piala dunia kali ini seperti penggunaan teknologi Video Assistance Referee (VAR).

Satu yang ingin saya sorot ialah prestasi fenomenal Kroasia di kancah Piala Dunia 2018. Saat tulisan ini dibuat Kroasia sudah memantapkan dirinya di partai final bersama Perancis yang akan digelar Minggu, 15 Juli 2018 di stadion Luzhniki.

asiangames2Pencapaian fenomenal Kroasia di ajang piala dunia kali ini adalah yang terbaik setelah pencapaian memukau mereka di gelaran piala dunia 1998 di Perancis. Kala itu Kroasia yang merupakan debutan berhasil melaju ke partai semifinal dan berhasil menggapai peringkat 3 setelah mengalahkan Belanda.

Kroasia hanyalah negara kecil di Eropa. Negara yang memiliki jumlah penduduk sekitar 4,15 juta jiwa pada tahun 2017 ini luas negaranya cuma sekira 56.594 km2. Hampir sama dengan luas Provinsi Aceh. Jadi, tentu saja capaian ke partai final piala dunia dan bukan tidak mungkin menjadi juara piala dunia sangat menginspirasi.

Keberhasilan Kroasia tidak terlepas dari perjuangan keras mereka dalam setiap pertandingan. Kualitas mereka sebelumnya telah terasah sangat baik di klub-klub besar eropa.

Prestasi fenomenal lainnya datang dari ajang kejuaran atletik tingkat dunia U-20, IAAF 2018 yang diadakan di Tampere, Finlandia. Ialah anak bangsa bernama Lalu Muhamad Zohri yang menggetarkan pemberitaan publik Indonesia. Zohri dengan fenomenal mengharumkan nama Indonesia setelah mencatatkan waktu 10,18 detik mengalahkan Anthony Schwartz dan Eric Harrison, pelari asal Amerika Serikat yang menempati peringkat kedua dan ketiga.

asiangames3

Berbagai apresiasi pun datang dari berbagai kalangan. Atlet lari dari Nusa Tenggara Barat ini banjir pujian dan tawaran mulai dari beasiswa, hadiah rumah, bonus, sampai tawaran CPNS dan masuk TNI-AD melalui jalur prestasi. Wajar saja apresiasi didapat Zohri. Prestasi yang baru diraihnya tidak main-main. Baru kali ini Indonesia mencatatkan pelarinya sebagai juara dunia di ajang tersebut setelah 32 tahun penyelenggaraannya. Raihan terbaik Indonesia sebelumnya finis di urutan delapan.

Semangat Indonesia di Asian Games 2018

Sebagai tuan rumah, Indonesia jelas mendapat keuntungan. Berlaga di hadapan para pendukung yang fanatik Indonesia seperti diharapkan Presiden dapat meraih tiga sukses Asian Games. Pertama, sukses persiapan. Diharapkan panitia dapat mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan sehingga pada waktu pelaksanaan dapat berjalan dengan baik. Tidak hanya itu masyarakat juga dapat lebih menggaungkan event Asian Games ini melalui media-media sosial yang kini semakin mudah diakses.

Kedua, sukses penyelenggaraan. Suatu event yang besar seperti Asian Games yang mempertandingkan 40 cabang olahraga akan dihadiri oleh para tamu dari 45 negara peserta membutuhkan kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak. Indonesia sebagai tuan rumah jelas harus menjadi etalase yang baik bagi promosi Indonesia di mata dunia.

Ketiga, sukses prestasi. Indonesia menargetkan masuk peringkat 10 besar di Asian Games 2018. Target yang tidak mudah tapi harus dilalui dengan perjuangan. Kita yakin dengan semangat juang untuk mengharumkan nama bangsa, para atlet Indonesia akan mampu memberikan yang terbaik sehingga target dapat tercapai.

Dua prestasi fenomenal yang diangkat tulisan ini: capaian Kroasia di Piala Dunia 2018 dan terutama prestasi Lalu Muhamad Zohri pada ajang IAAF 2018 semoga menjadi inspirasi untuk para atlet Indonesia yang berlaga di Asian Games 2018. Tak ada yang tak mungkin selama kita terus berjuang mengerahkan segenap kemampuan terbaik kita. Maju terus Indonesia, raihlah prestasi yang membanggakan seluruh masyarakat Indonesia.  Ayo kita dukung bersama Indonesia di ajang Asian Games 2018!

Sumber gambar: Google

Sumber bacaan:

http://dukungbersama.id

https://indonesiabaik.id

https://www.republika.co.id

https://www.dw.com/id/

https://sport.detik.com

https://bolalob.com/

https://sport.tempo.co/

#dukungbersama #asiangames2018

Iklan

Pelibatan Keluarga Menyertai Keberhasilan Pendidikan Anak

Keluarga harus terlibat dalam kegiatan pendidikan anak-anaknya. Hal itu mutlak dilakukan. Ketika anak disekolahkan bukan berarti keluarga berhenti peran. Tetapi justeru perannya semakin besar. Menginjak usia sekolah, berarti anak akan semakin besar ruang sosialisasinya. Bila selama ini anak mendapatkan pendidikan dari orangtuanya dan pengaruh teman sebaya yang mungkin ada di sekitar lingkungannya, ketika bersekolah ia akan mendapat teman yang sama-sama dalam belajar dan mengenyam pendidikan.

keluarga

Ilustrasi (sumber: google)

Hubungan sekolah dan keluarga dari anak berperan dalam keberhasilan pendidikan anak. Ketika orangtua mendampingi kegiatan-kegiatan di sekolah, anak akan mendapatkan kepercayaan diri yang tinggi. Pendampingan anak pada usia dini mungkin akan lebih besar lagi pengaruhnya bagi perkembangan psikologi anak. Karena pada masa-masa awal anak membutuhkan adaptasi dengan lingkungan barunya.

Di sekolah yang lanjutan, peran sekolah dalam menempatkan keluarga sebagai mitra pendidik sangat penting. Sekolah yang ingin berhasil dalam pendidikan siswa-siswinya harus selalu bersinergi dengan keluarga. Banyak program yang dapat melibatkan orangtua baik secara langsung maupun tidak langsung akan mendorong kemajuan sekolah.

Barangkali yang selama ini sering salah kaprah bahwa pelibatan orangtua dalam penyelenggaraan pendidikan anak hanya sebatas pada masalah pendanaan pendidikan. Padahal untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan sebagaimana juga yang diamanatkan oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, keluarga merupakan pilar penting dalam trilogi pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Maka sangat layak ketika muncul Permendikbud Nomor 30 tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Dalam Permendikbud ini diakui bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan dan perlunya sinergitas antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat.

Dalam laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id yang mengutip Herien Puspitawati dan Ma’mun Sarma( 2012) disebutkan bahwa selama ini sudah terjadi sinergisme antara orang tua dan sekolah dalam bentuk:

  • Undangan dari sekolah seperti untuk pembagian raport, kegiatan sekolah, dan kegiatan resmi lainnya;
  • Orang tua secara sukarela datang ke sekolah untuk menanyakan kemajuan anaknya;
  • Penyebaran informasi melalui selebaran berisi himbauan, motivasi belajar dan kegiatan ekstrakurikuler;
  • Bentuk komunikasi antara walikelas dengan orang tua melalui sms untuk menyapa, memonitor anak, menanyakan kemajuan belajar, memanggil orang tua dan berkonsultasi

Namun, ditulis Herien, ada bentuk sinergisme yang penting namun selama ini belum pernah dilakukan, yakni :

  • Sosialisasi pihak sekolah kepada orang tua tentang pemetaan siswa, seperti kemampuan emosional, kematangan sosial, kepribadian, dan sebagainya;
  • Memberikan hasil pemetaan psikososial dan kognitif siswa tersebut kepada orang tua dan dijadikan pegangan oleh guru bimbingan dan konseling dalam memberikan konseling;
  • Memberikan leaflet-leaflet berkaitan dengan parenting, pendidikan karakter, kepada orang tua;
  • Walikelas/guru BK memantau pengiriman leaflet tersebut dan memantau tanggapan orang tua;
  • Penyuluhan dari pihak sekolah ke orang tua tentang potensi dan permasalahan siswa;
  • Menggelar kegiatan bersama antara orang tua, siswa dan sekolah;
  • Guru BK atau walikelas melakukan visitasi ke rumah siswa yang membutuhkan secara periodik.

Pengalaman pribadi

Salah satu kendala mendampingi anak dalam kegiatan-kegiatan sekolah yaitu pengaturan waktu orangtua. Terkadang orangtua yang dua-duanya bekerja perlu menyiasatinya dengan baik. Saya sendiri bersama isteri yang juga bekerja mencoba berbagi dalam pendampingan anak kami. Kebetulan saat ini anak kami yang pertama, Haidar, menginjak tahun keduanya di PAUD.

Yang agak “merepotkan” dalam pendampingan anak kami yaitu pada saat ada kegiatan karyawisata. Kegiatan ini biasanya seharian penuh karena terkadang dilaksanakan ke luar kota. Sebenarnya acara ini juga bertujuan mengeratkan tali silaturahmi antarkeluarga di sekolah. Masalahnya adalah kami harus menyesuaikan dengan jadwal kerja. Terkadang kami bergantian mendampingi anak kami.

Buat saya sebagai ayah, memang agak sedikit lain ceritanya. Karena biasanya kan yang mendampingi anak-anak PAUD kebanyakan ibu-ibunya J. Suatu waktu saat itu karyawisata ke Merak. Isteri kebetulan ada acara pendampingan siswa di sekolah tempat ia mengajar. Akhirnya saya turun gunung.

Tentu saja saya sekali-kali saja mendampingi. Yang sering adalah isteri saya. Maklum saja seperti yang sudah disampaikan, kebanyakan yang ikut kegiatan anak-anak PAUD kami ibu-ibunya.

keluarga1

Bermain dan belajar di Perpustakaan Umum DKI Jakarta (Dok. Pribadi)

Pernah suatu ketika kami berdua sama sekali tidak bisa mendampingi anak kami. PAUD tempat anak kami belajar mengadakan karyawisata ke Seaworld Dufan. Kebetulan sekali saya ada jadwal pelatihan di Jakarta, sedangkan isteri sama-sama memiliki acara di sekolahnya yang tidak bisa diwakilkan. Jadilah kami kebingungan. Sedangkan anak kami sangat ingin bundanya ikut. Akhirnya saya merayu anak saya dengan kegiatan kunjungan keluarga.

IMG_20180428_110041

Berkunjung ke Planetarium Jakarta (dok. pribadi)

Pada saat seperti itu saya semakin memahami kebutuhan hadirnya orangtua dalam kegiatan anak di sekolah. Anak saya tentu sedih tidak bisa berkunjung dalam acara karyawisata di sekolahnya. Sesedih kami sebagai orangtua yang tidak bisa hadir. Tapi kami berusaha memastikan kepada anak kami bahwa kami senantiasa berusaha yang terbaik untuknya.

#sahabatkeluarga