soal olimpiade kimia kabupaten
Sudah dua tahun saya membimbing siswa ikut olimpiade walaupun belum memperoleh hasil yang memuaskan. Mudah-mudahan suatu saat nanti ada kemajuan. Berikut saya share soal olimpiade kimia tingkat kabupaten hasil dari search mbah google. Silahkan di klik link berikut:
Kisi-kisi UN 2011/2012
Kisi-kisi Ujian Nasional 2011/2012 untuk SMP, MTs, SMPLB, SMA, MA, SMALB, dan SMK dapat di download DISINI
POS UN 2012
Bagi guru-guru yang memerlukan panduan pelaksanaan Ujian Nasional dapat di lihat DISINI
Dalam Islam Pendidikan Ibarat Bercocok Tanam
Dalam bahasa Arab, istilah pendidikan disebut tarbiyah, sebuah kata yang sarat makna yang masih seakar dengan kata riba (uang yang selalu berkembang), rabwah (tanah tinggi), dan rabb (sifat Allah yang senantiasa memelihara, mencintai, dan mendidik).
Pendidikan Islam secara umum adalah upaya sistematis untuk membantu anak didik agar tumbuh berkembang mengaktualkan potensinya berdasarkan kaidah-kaidah moral Alquran, ilmu pengetahuan, dan keterampilan hidup. Dengan ungkapan normatif keagamaan, pendidikan berfungsi memfasilitasi agar seseorang tumbuh menjadi pribadi yang hidup berlandaskan tauhid atau abdullah. Secara vertikal, pribadi demikian hanya mau bersujud di hadapan kebesaran Allah, menyatakan haram menyembah sosok manusia ataupun jabatan.
Jika seseorang telah menjadi abdullah, dia juga memiliki misi sebagai khalifatullah untuk mewujudkan sifat Ilahi dalam aktivitas hidupnya. Sistem sekolah adalah salah satu bagian saja dari sebuah proses pendidikan yang cakupannya begitu luas dan prosesnya berlangsung sepanjang hayat.
Disayangkan, ada kecenderungan pemahaman dan proses pendidikan ini telah direduksi menjadi sebuah sekolah di ruang tertutup yang mengandalkan kurikulum serta tatap muka antara guru dan murid di kelas. Rendahnya mutu pendidikan nasional berakibat langsung pada rendahnya mutu SDM umat Islam.
Apalagi citra pelajar tengah terganggu oleh citra negatif, baik yang dikaitkan dengan narkoba, perkelahian, budaya menyontek, maupun pergaulan bebas. Ini semua membuat potret dunia pendidikan di Indonesia kelihatan suram dan pesimistis.
Sesungguhnya dunia pesantren memiliki aset dan dimensi pendidikan yang amat berharga untuk memajukan pendidikan dan memberdayakan potensi masyarakat. Sayangnya, potensi unggul pesantren yang begitu murah, merakyat, dan mengajarkan keterampilan hidup kurang diapresiasi dan didukung secara optimal dengan memasukkan komponen modern.
Kita perlu merenung, berapa banyak energi umat Islam telah terbuang untuk hal-hal yang tidak produktif. Konflik sektarian telah menguras aset umat Islam, sementara dunia pendidikan telantar. Islam tidak lagi menjadi pusat peradaban dunia karena perhatian kita semakin kecil dalam upaya mengembangkan lembaga keilmuan, riset, dan peradaban.
Kita mesti hemat dalam membelanjakan uang pribadi maupun negara, kecuali dalam satu hal, yaitu pendidikan. Itulah yang dilakukan Korea Selatan dan Malaysia yang telah dimulai pada dekade 1970-an dan kini mereka menuai hasilnya. Sementara itu, Indonesia lebih senang membangun beton-beton dan hidup konsumtif-koruptif.
Membangun generasi, sedikitnya memerlukan waktu 20-25 tahun, sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Artinya, selama masa penantian itu kita harus kerja keras merawat “tanaman” kita sambil berpuasa; menahan diri dari hidup mewah. Kalau gaya hidup konsumtif-koruptif terus berlanjut sehingga investasi manusia melalui program pendidikan tetap telantar, tak ayal ini artinya kita tengah menghancurkan rumah bangsa sendiri. Hancurnya peradaban dunia disebabkan minimnya kepedulian kita pada pengembangan pusat-pusat pendidikan yang bermutu.
*tulisan KH Said Aqiel Siradj diambil dari http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/07/14/lobirg-dalam-islam-pendidikan-ibarat-bercocok-tanam
Banten, Hikayat Kerbau di Ladang Pabrik
200 Tahun Anjer-Panaroekan
Banten, Hikayat Kerbau di Ladang Pabrik*
Oleh: Anita Yossihara dan Ahmad Arif
Jalan itu mulus. Aspal hitam melapisi permukaannya. Asap cerobong pabrik kimia memagari tepiannya. Seorang lelaki renta menggiring lima kerbau di sana.
Seorang anak muda memungut botol bekas di saluran air. Lelaki renta itu menyapa, kemudian berlalu. Ia bergegas mengiringi kerbau-kerbaunya. Jalan mulai menanjak.
Sukra, nama lelaki itu, berhenti di rumahnya. Rumah renta, setua usianya yang 84 tahun. Dari beranda rumahnya, jantung kawasan industri Pancapuri, Cilegon, Banten, terlihat jelas. Saat malam, cahaya lampu pabrik berpendar seperti bintang.
Pabrik-pabrik itu teramat dekat dengan Sukra, tetapi terasa jauh. Sukra tak pernah mencicipi legit kerja di proyek, apalagi bekerja di pabrik. Janji-janji kemudahan lapangan kerja pada awal pendirian pabrik hanyalah pepesan kosong.
Pada kerbau-kerbau itulah harapan Sukra disandarkan. Seekor kerbau miliknya dan empat ekor milik orang lain. Sukra tak pernah membedakannya.
Melihat Sukra dengan kerbau-kerbaunya mengingatkan pada fragmen Saijah dan Adinda dengan kerbau-kerbau mereka, seperti yang ditulis Multatuli –nama samaran Douwes Dekker – dalam Max havelaar, tahun 1860. “… kemudian larilah ayah Saijah meninggalkan desanya sebab ia merasa sangat takut dijatuhi hukuman jika ia tidak membayar pajak tanahnya. Padahal, ia sudah tidak mempunyai peninggalan apa-apa lagi untuk membeli kerbau baru,” tulis Deuwes Dekker. Berulang kali, kerbau-kerbau ayah Saijah kemudian dirampas oleh Kepala Distrik Parungkujang, Lebak. Dalam pelariannya, ayah Saijah kemudian ditangkap dan mati di penjara. Pada akhir fragmen, seluruh tokohnya mati.
Fragmen itu menuturkan kemiskinan dan penderitaan rakyat Banten karena dihisap penguasa pribumi yang bersekutu dengan penjajah Belanda. Penderitaan yang bermula dari diambilnya kerbau, harta paling berharga bagi petani. Tanpa kerbau, mereka tak bisa menggarap ladang. Tanpa panenan mereka tak bisa membayar pajak.
Hampir 150 tahun kemudian, fragmen itu terasa masih relevan untuk menggambarkan satu sisi wajah Banten. Bahkan setiap kali fragmen itu menemukan bentuknya yang lebih pedih. Jika dulu yang dirampas adalah kerbau, saat ini petani kehilangan tanah.
Tanah
Bojonegara, pesisir barat Banten, siang itu sangat panas. Matahari kemarau mencipta tanah retak. Ramsiah (45) menyiram tanaman timun suri dari sumur gali di tengah sawah. Bulan puasa hampir tiba, bulan dimana Ramsiah bisa menjual timun suri sebagai makanan berbuka.
Ramsiah berpeluh, tetapi tak mau berhenti. Sawah warisan satu-satunya itu sudah bukan miliknya lagi. Ramsiah menunggu waktu sebelum ladangnya diambil untuk diubah menjadi pabrik.
Kesenjangan
Dua ratus tahun sejak Herman Willem Dandells menginjakkan kaki di tanah Banten, Januari 1808, wajah luar kawasan ujung barat pulau Jawa ini mulai berubah banyak. Dimulai ketika tahun 1970-an ketika pemerintah membangun kawasan industri di sana. Pabrik raksasa menjamur, sebagian di antaranya perusahaan asing. Hingga akhir tahun 2007, sedikitnya ada 1500 industri di Banten.
Pendapatan domestik regional bruto (PDRB) di Banten pun terdongkrak dengan maraknya industri. Tahun 2002 nilai PDRB Banten Rp 60,35 triliun. Setahun kemudian meningkat menjadi Rp 66,87 triliun. Tahun 2004 melompat menjadi 75,56 triliun, tahun 2005 naik lagi menjadi Rp 83,77 triliun. Setahun kemudian semakin tinggi, Rp 94,42 triliun.
Namun, pesatnya pertumbuhan industri yang diiringi PDRB Banten tak berbanding lurus dengan kesejahteraan warganya. Sebagian besar warga belum terserap ke industri. Mereka yang bekerja di sektor industri kebanyakan juga di level rendah, seperti tenaga buruh, petugas satpam, dan pegawai rendahan.
Banten tetap menjadi salah satu propinsi termiskin di Pulau Jawa. Data survei sosial ekonomi nasional tahun 2006 menunjukkan, jumlah penduduk miskin di Banten mencapai 904 keluarga (9,79 persen). Dari sekitar 6,1 juta pekerja di sektor informal dan 26,91 persen di antaranya bekerja di sektor pertanian. Industri pengolahan yang merupakan penyumbang PDRB hanya menampung 22,85 persen tenaga kerja. Angka ini lebih kecil dibandingkan pengangguran yang mencapai 28,01 persen.
Kondisi itu terjadi karena rendahnya tingkat pendidikan dan kompetensi penduduk Banten. Dari 7,1 juta penduduk usia kerja, 32,18 persen di antaranya hanya lulus SD. Sebanyak 26,8 persen tidak tamat SD, lulusan SMP 17,54 persen, lulusan SMK 3,89 persen, diploma 1,89 persen, S1 1,86 persen, serta S-2 dan S-3 0,1 persen.
Jika sebagian besar warga menggantungkan hidupnya pada pertanian karena memang tak sanggup masuk ke sektor industri, apa jadinya jika lahan pertanian rakyat itu terus menipis karena diambil alih industri?
Catatan: Tulisan ini dikutip utuh dari harian Kompas edisi 22-08-08 hampir dua tahun yang lalu. Saya temukan tulisan ini dalam sedikit kliping artikel yang saya niliki Saya tidak tahu benar kondisi sekarang apakah Banten sudah berubah ataukah jalan di tempat. Tetapi barangkali sekali-kali perlu juga kita yang mengaku wong Banten ini mendengarkan apa kata orang “luar” tentang diri kita. Bisa jadi potret semacam itu lebih jujur ketimbang berbagai macam klaim kemajuan Banten yang kadang hanya menjadi retorika kampanye. Kalau potret itu begitu kelam tak perlu marah dan menyalahkan orang lain. Juga tak perlu menjadi pesimis. Rasanya itu dapat dijadikan semacam refleksi untuk menatap masa depan Banten yang lebih baik.
Antara Shalat dan Maksiat*
“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. 29 : 45)
Berdasarkan zahir ayat ini, setiap orang yang shalat tidak akan melakukan perbuatan keji dan mungkar. Tapi, hal ini bertentangan dengan realita di lapangan. Banyak orang shalat tapi mencuri, korupsi, bohongnya tetap jalan. Bahkan, ada orang yang shalat tapi ia tetap melakukan dosa besar.
Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa beberapa sahabat menanyakan kepada Rasulullah saw perihal seseorang yang suka berbuat maksiat, tapi shalat tidak pernah dia tinggalkan. Rasulullah saw menjawab “Suatu saat nanti shalatnya akan mencegahnya dari maksiat itu.” Tidak lama kemudian terdengar kabar bahwa orang itu telah tobat.
Jika kita tinjau dari sisi bahasa mencegah atau melarang adalah semacam perintah untuk meninggalkan sesuatu. Larangan sebagaimana perintah bukan berarti membelenggu dan merantai sehingga orang tidak bisa bergerak. Tapi dia tak lebih dari ajakan yang meminta seseorang untuk meninggalkan sesuatu. Merupakan tabiat sebuah ajakan bahwa terealisasi atau tidaknya larangan tersebut kembali kepada orang yang dilarang. Seperti ketika Allah melarang manusia berbuat dosa. Tapi tetap saja ada manusia yang melakukannya.
Diantara keajaiban shalat, ia menghadirkan perasaan menyesal dan bersalah pada orang yang melakukan maksiat. Berbeda dengan ibadah lainnya yang bisa diolah setan untuk dijadikan pembenaran terhadap sebuah kesalahan. Seperti ibadah zakat. Seorang koruptur dan perampok –dengan bisikan setan- merasa bahwa dengan mengeluarkan zakat korupsi dan perampokannya akan diampuni. Atau setan membisikan bahwa tindakan korupsinya adalah sebuah tindakan yang benar karena menjadi jalan kebaikan bagi orang miskin yang menerima zakat. Sehingga dia semakin semangat untuk melakukan aksinya itu. Sementara ketika shalat, bisikan-bisikan pembenaran terhadap maksiat biasanya tidak muncul. Yang muncul dan menghantui justru perasaan bersalah dan menyesal. Sehingga orang yang melakukan maksiat sebelum shalat biasanya untuk berdoa tidak percaya diri.
Bagi seorang yang menjaga shalat sekaligus pecandu maksiat penyesalan dan perasaan bersalah akan terus menghantui selama dia menjaga shalatnya. Minimal lima kali sehari perasaan itu mengetuk dan membuat nuraninya memberontak.
Agar terhindar dari perasaan itu dia terdesak pada dua pilihan, menunaikan shalat dan meninggalkan maksiat atau tetap bermaksiat tapi meninggalkan shalat. Salah satu dari dua pilihan itu mesti dia ambil. Jika tidak, perasaan itu akan terus muncul minimal lima kali sehari, yaitu ketika dia shalat.
Orang yang mengambil pilihan pertama, menjaga shalat dan meninggalkan maksiat, pada awalnya barangkali akan merasa berat ketika godaan-godaan maksiat itu datang. Namun ketika shalat dia akan aman dan khusu’ bebas dari penyesalan dan perasaan bersalah. Sehingga,dia pun percaya diri ketika menengadahkan tangan berdoa kepada-Nya. Sementara yang mengambil pilihan kedua, tetap bermaksiat dan meninggalkan shalat akan semakin larut dalam maksiatnya. Perasaan bersalah dan menyesal yang selama ini muncul lima kali sehari sudah tidak ada lagi. Semakin lama dia akan semakin larut dan terkubur dalam jurang maksiat. Pilihan itu mesti dia ambil karena shalat dan maksiat selamanya tidak akan bisa disatukan
* Dikutip dari http://eramuslim.com/oase-iman/antara-shalat-dan-maksiat.htm


