Mencari Makna dan Realisasi Taqwa
Seberapa sering kita mendengar kata taqwa? Rasanya cukup sering. Kata ini bukan saja didengungkan para khatib di mimbar-mimbar masjid yang mulia, tetapi juga telah masuk ke sendi-sendi kehidupan kita. Bahkan ia menjadi syarat nomor satu untuk jabatan-jabatan tertentu. Taqwa juga menjadi salah satu tujuan dari pendidikan nasional kita.
Alhamdulillah. Kata taqwa menjadi milik kita semua. Tapi ada bahaya di sini. Tanpa pemaknaan dan pendalaman kata ini menjadi sedemikian lumrah. Kita tahu ketinggian makna dan kemuliaan orang yang memilikinya tapi juga menjadi sedemikian asing. Taqwa menjadi kata-kata indah tapi juga tak terjangkau. Adakah kita termasuk orang-orang yang bertaqwa?
Bila khatib naik mimbar dimulai dengan menyampaikan puji-pujian kepada Allah dilanjutkan dengan pesan taqwa. Para jamaah mulai menundukkan kepala tampak khusyu. Tengkuk agak ditekuk kedepan. Suara khatib mulai terdengar pelan. Pelan… dan pelan sampai tak terdengar. Itulah ritual rutin kita setiap jum’at. Begitu juga saya ketika selepas SMA. Teman saya menyentuh saya dengan tangannya. Ia isyaratkan tangannya memencet-mencet jempol kaki untuk menghilangkan kantuk. Saya ikuti dia dan paham maksudnya: dengarkan kalau khatib sedang naik mimbar jangan sampai tidur!
Dari Abu Dzar dan Muadz bin Jabal, Rasulullah bersabda: bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan berbuat baik niscaya kebaikan itu menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji. (Hr. Tirmidzi). Itulah pesan taqwa, pesan utama yang selalu disampaikan Nabi, juga dalam setiap khutbahnya. Dikuti oleh para sahabat yang selalu mengikutinya. Bila diminta memberikan nasihat, selalu: bertaqwalah kalian kepada Allah…
Pesan taqwa itu pun terus bersambung ke kita khususnya dalam setiap mimbar jumat. Apa sebenarnya makna taqwa? Berkata Ali bin Abi Thalib ra. Taqwa adalah takut kepada Allah, beramal sesuai Al-quran, menerima yang sedikit, dan bersiap-siap untuk menghadapi hari akhir. Hasan Al-bashri mengatakan “orang bertaqwa adalah mereka yang menjaga dari apa-apa yang Allah haramkan atas mereka, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban Allah atas mereka”.
Taqwa itu bukan sekadar ucapan belaka tapi juga terus terealisasi dalam kehidupan bahkan setelah Nabi tiada. Suatu hari kalifah Umar bin Khatab ra berkeliling meninjau rakyatnya dan mendapati seorang anak gembala yang menggiring banyak domba. Bertanya Umar apakah domba-domba itu miliknya. Si anak menjawab domba itu milik tuannya. Umar mengetes si anak untuk menjual seekor hanya seekor saja. Anak itu menolak. Umar terus merajuk mengatakan toh tuan anak itu tak bakal tahu. Hanya satu domba di antara banyak dombanya. Kalau saja anak itu mau mengatakan salah satu domba itu diterkam serigala tentu tuannya bakal percaya.
Anak itu tetap menolak dan Umar melakukan serangan terakhir menggunakan ‘keangkeran’ namanya. Umar kembali merajuk anak itu dengan mengatakan bahkan khalifah Umar pun belum tentu tahu jika saja anak itu mau menjual seekor dombanya. Maka si anak melontarkan perkataan tegas yang selamanya akan dikenang: khalifah Umar mungkin tidak bakal tahu. Tapi dimanakah Allah? Maka Umar pun memuji Allah dan mendoakan keberkahan pada anak itu.
Kita rindu ketaqwaan mendapatkan bentuk konkretnya di tengah-tengah kehidupan kita seperti di padang gembala pada zaman Umar itu. Di pasar-pasar, sekolah-sekolah, di warnet-warnet, di sawah-sawah, di hutan-hutan, di padang gembala, terlebih di masjid-masjid yang dimuliakan. Ketaqwaan akhirnya menjadi barometer kehidupan bukan keturunan, kedudukan, pangkat, jabatan atau pun harta. Sebagai mana realisasi dari firman Allah: sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.
Thalaq bin Habib rhm. ketika ditanya tentang tanda-tanda ketaqwaan mengatakan: berbuat kebaikan adalah cahaya dari Allah yang mengharapkan balasan kebaikan, sedangkan meninggalkan maksiat adalah cahaya Allah karena rasa takut dengan adzab-Nya.
Taqwa itulah yang merupakan wasiat Allah SWT untuk seluruh generasi umat manusia, sejak yang pertama hingga yang terakhir: dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertaqwalah kepada Allah. (QS. Nisa’:131)
Bila pesan taqwa itu terus didengarkan, dipahami, dan terus berusaha diimplementasikan kita yakin cita-cita suatu masyrakat yang diridhai Allah akan tercapai. Jikalau sekiranya penduduk suatu kaum beriman dan bertaqwa akan kami bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.
Sumber bacaan: kamus Al-Mukhtar, Tim Kajian Al-kitabah, Pustaka Arafah, 2004.
Dr. Shalih bin Ibrahim, Inilah Takwa & buahnya, eLBa, 2006.