Arsip

Arsip untuk Juni, 2009

Mencari Makna dan Realisasi Taqwa

21 Juni 2009 Tinggalkan Komentar

Seberapa sering kita mendengar kata taqwa? Rasanya cukup sering. Kata ini bukan saja didengungkan para khatib di mimbar-mimbar masjid yang mulia, tetapi juga telah masuk ke sendi-sendi kehidupan kita. Bahkan ia menjadi syarat nomor satu untuk jabatan-jabatan tertentu. Taqwa juga menjadi salah satu tujuan dari pendidikan nasional kita.

Alhamdulillah. Kata taqwa menjadi milik kita semua. Tapi ada bahaya di sini. Tanpa pemaknaan dan pendalaman kata ini menjadi sedemikian lumrah. Kita tahu ketinggian makna dan kemuliaan orang yang memilikinya tapi juga menjadi sedemikian asing. Taqwa menjadi kata-kata indah tapi juga tak terjangkau. Adakah kita termasuk orang-orang yang bertaqwa?

Bila khatib naik mimbar dimulai dengan menyampaikan puji-pujian kepada Allah dilanjutkan dengan pesan taqwa. Para jamaah mulai menundukkan kepala tampak khusyu. Tengkuk agak ditekuk kedepan. Suara khatib mulai terdengar pelan. Pelan… dan pelan sampai tak terdengar. Itulah ritual rutin kita setiap jum’at. Begitu juga saya ketika selepas SMA. Teman saya menyentuh saya dengan tangannya. Ia isyaratkan tangannya memencet-mencet jempol kaki untuk menghilangkan kantuk. Saya ikuti dia dan paham maksudnya: dengarkan kalau khatib sedang naik mimbar jangan sampai tidur!

Dari Abu Dzar dan Muadz bin Jabal, Rasulullah bersabda: bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan berbuat baik niscaya kebaikan itu menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji. (Hr. Tirmidzi). Itulah pesan taqwa, pesan utama yang selalu disampaikan Nabi, juga dalam setiap khutbahnya. Dikuti oleh para sahabat yang selalu mengikutinya. Bila diminta memberikan nasihat, selalu: bertaqwalah kalian kepada Allah…

Pesan taqwa itu pun terus bersambung ke kita khususnya dalam setiap mimbar jumat. Apa sebenarnya makna taqwa? Berkata Ali bin Abi Thalib ra. Taqwa adalah takut kepada Allah, beramal sesuai Al-quran, menerima yang sedikit, dan bersiap-siap untuk menghadapi hari akhir. Hasan Al-bashri mengatakan “orang bertaqwa adalah mereka yang menjaga dari apa-apa yang Allah haramkan atas mereka, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban Allah atas mereka”.

Taqwa itu bukan sekadar ucapan belaka tapi juga terus terealisasi dalam kehidupan bahkan setelah Nabi tiada. Suatu hari kalifah Umar bin Khatab ra berkeliling meninjau rakyatnya dan mendapati seorang anak gembala yang menggiring banyak domba. Bertanya Umar apakah domba-domba itu miliknya. Si anak menjawab domba itu milik tuannya. Umar mengetes si anak untuk menjual seekor hanya seekor saja. Anak itu menolak. Umar terus merajuk mengatakan toh tuan anak itu tak bakal tahu. Hanya satu domba di antara banyak dombanya. Kalau saja anak itu mau mengatakan salah satu domba itu diterkam serigala tentu tuannya bakal percaya.

Anak itu tetap menolak dan Umar melakukan serangan terakhir menggunakan ‘keangkeran’ namanya. Umar kembali merajuk anak itu dengan mengatakan bahkan khalifah Umar pun belum tentu tahu jika saja anak itu mau menjual seekor dombanya. Maka si anak melontarkan perkataan tegas yang selamanya akan dikenang: khalifah Umar mungkin tidak bakal tahu. Tapi dimanakah Allah? Maka Umar pun memuji Allah dan mendoakan keberkahan pada anak itu.

Kita rindu ketaqwaan mendapatkan bentuk konkretnya di tengah-tengah kehidupan kita seperti di padang gembala pada zaman Umar itu. Di pasar-pasar, sekolah-sekolah, di warnet-warnet, di sawah-sawah, di hutan-hutan, di padang gembala, terlebih di masjid-masjid yang dimuliakan. Ketaqwaan akhirnya menjadi barometer kehidupan bukan keturunan, kedudukan, pangkat, jabatan atau pun harta. Sebagai mana realisasi dari firman Allah: sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.

Thalaq bin Habib rhm. ketika ditanya tentang tanda-tanda ketaqwaan mengatakan: berbuat kebaikan adalah cahaya dari Allah yang mengharapkan balasan kebaikan, sedangkan meninggalkan maksiat adalah cahaya Allah karena rasa takut dengan adzab-Nya.

Taqwa itulah yang merupakan wasiat Allah SWT untuk seluruh generasi umat manusia, sejak yang pertama hingga yang terakhir: dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertaqwalah kepada Allah. (QS. Nisa’:131)

Bila pesan taqwa itu terus didengarkan, dipahami, dan terus berusaha diimplementasikan kita yakin cita-cita suatu masyrakat yang diridhai Allah akan tercapai. Jikalau sekiranya penduduk suatu kaum beriman dan bertaqwa akan kami bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.

Sumber bacaan: kamus Al-Mukhtar, Tim Kajian Al-kitabah, Pustaka    Arafah, 2004.

Dr. Shalih bin Ibrahim, Inilah Takwa &  buahnya, eLBa, 2006.

Categories: Uncategorized

GELAR PENGANGGUR DITANGAN SARJANA

19 Juni 2009 1 komentar

Bagaimana pun sedih penganggur buta-aksara, penganggur sarjana lebih sengsara. Kalimat itu dilontarkan Fuad Hassan menteri pendidikan dan kebudayaan pada jaman Orde Baru pada saat Rapat Kerja Rektor IKIP dan Dekan FKIP. Keseluruhan isi sambutan yang telah didokumentasikan itu sendiri berisi keprihatinan beliau dan antisipasi pada fenomena jumlah pengangguran terdidik yang semakin menunjukkan peningkatan (1991: 141).

Kini, peningkatan jumlah pengangguran terdidik semakin mengkhawatirkan. Sebanyak 4,5 juta penganggur terbuka di Indonesia adalah penganggur terdidik. Persentase peningkatannya sendiri semakin besar dari 17 persen (1994) menjadi 26 persen (2004) dan kini mencapai 50,3 persen.

Peningkatan pengangguran terjadi karena penyerapan tenaga kerja tidak sesuai dengan kuantitas lulusan dari berbagai jenjang pendidikan. Tidak heran bila dalam suatu pameran bursa tenaga kerja peminat yang hadir selalu membludak. Pengunjung rela mengantre lama bahkan berdesak-desakkan untuk mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.

Fenomena peningkatan jumlah penganggur terdidik menyiratkan beberapa gejala yang dapat kita amati. Pertama, dunia kerja semakin mensyaratkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dulu tamat sekolah setingkat SMA sudah dianggap cukup untuk memasuki berbagai lapangan pekerjaan yang layak. Sekarang mungkin untuk pekerjaan yang sejenis dibutuhkan kualifikasi setingkat diploma atau bahkan lebih tinggi lagi.

Kedua, persaingan dunia kerja kini kita rasakan semakin keras. Lulusan perguruan tinggi yang membludak semakin bersaing untuk mendapatkan “kue” dunia kerja. Rasio antara jumlah lowongan dan pencari kerja semakin kecil. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Tangerang, misalnya, mencatat jumlah pengangguran yang mencapai 272.500 orang. Dengan jumlah pencari kerja sebanyak 79.182 orang yang dapat tertampung hanya 14.675 orang (Baraya Post, 27/07/08). Untuk ukuran kabubaten dengan jumlah industri yang cukup banyak, angka-angka tersebut cukup memprihatinkan.

Pendidikan Tinggi

Ada semacam jebakan bagi dunia pendidikan dalam menghadapi tuntutan dunia kerja sekarang ini. Permintaan yang tinggi terhadap kualifikasi lulusan pencari kerja menjadi lahan bisnis pendidikan yang menggiurkan. Hal ini logis karena masyarakat pada akhirnya menjadi semakin melek akan pentingnya pendidikan. Namun demikian membuka lembaga pendidikan baru hanya semata-mata memenuhi permintaan pasar akan mengkerdilkan visi pendidikan itu sendiri.

Kasus ijazah palsu dan jual beli gelar semakin menegaskah keterkaitan adanya permintaan yang tinggi itu. Di sini ada paradoks. Di satu sisi masyarakat menyadari adanya tuntutan yang semakin tinggi terhadap kualifikasi pendidikan. Tapi di sisi lain adanya kecenderungan untuk mereduksi makna pendidikan semata-mata terdapat pada gelar. Gelar akhirnya dianggap segalanya dan diusahakan didapatkan dengan berbagai cara yang justru bertentangan dengan makna pendidikan itu sendiri.

Tantangan berat kini dihadapi oleh lembaga perguruan tinggi sebagai penghasil sarjana. Semakin maraknya penganggur sarjana merupakan kritik tidak langsung terhadap proses pengelolaan PT. Apakah proses perkuliahan agar sampai benar-benar efektif dan berkualitas hingga pertanyaan terhadap relevansi pembukaan berbagai jurusan. Bagaimana pun sudah semestinya pembukaan suatu jurusan PT memperhatikan relevansinya dengan dunia kerja.

Itu bukan berarti menjadikan PT bersifat pragmatis belaka tanpa memperhatikan kedalaman proses akademis para mahasiswanya. Disinilah tantangannya memadukan kompetensi kerja dan pencapaian visi lembaga PT itu sendiri.

Sudah saatnya pendidikan tinggi memfokuskan visinya pada pencapaian kualitas lulusan berdasarkan kompetensi. Kompetensi itu bukan saja yang dibutuhkan untuk menghadapi persaingan kerja lebih jauh dapat diarahkan untuk mencapai kualitas lulusan pencipta lapangan kerja. Disinilah relevansinya untuk memperluas wawasan enterpreunerships para mahasiswa calon sarjana. Tidak mudah memang dan dibutuhkan visi yang serius bagi pengelola PT.

Introspeksi

Peningkatan penganggur dari kalangan terdidik khususnya sarjana membutuhkan keseriusan dari semua pihak termasuk para pengambil kebijakan. Namun demikian dibutuhkan keberanian juga dari penganggur sarjana untuk melakukan introspeksi diri.

Dunia kini semakin global namun demikian bagian-bagian yang mempunyai ciri khas akan semakin berpengaruh. Karena itu para sarjana tidak cukup hanya memiliki kemampuan-kemampuan yang memang kini semakin lumrah. Kemampuan berbahasa asing dan menguasai teknologi sebagai salah satu contoh yang kini semakin lumrah dan menjadi tuntutan. Selain itu diperlukan keterampilan intrapersonal dan interpersonal sebagai penunjang kesuksesan..

Salah satu keterampilan yang penting dimiliki yaitu kemampuan untuk melakukan introspeksi yang merupakan kritik terhadap diri sendiri. Hal ini mensyaratkan kemauan untuk menerima diri apa adanya. Belajar mengenal lebih dalam semua potensi yang dimiliki oleh pribadi sehingga dapat dioptimalkan dengan maksimal.

Predikat gelar sarjana yang disandang merupakan suatu prestise tersendiri. Namun, pada kondisi yang tidak diharapkan, menganggur misalnya, justru predikat sarjana itu akan menjadi beban psikologis yang cukup berat. Diperlukan kelapangan untuk menyadari beban berat itu. Sehingga tidak ada upaya untuk menyalahkan pihak lain untuk mengurangi beban itu. Yang diperlukan adalah penyadaran terhadap beban itu untuk memikul tanggung jawab yang semestinya dapat dilakukan.

Pada umumnya para sarjana setelah melewati jenjang perguruan tinggi memiliki kualifikasi tertentu yang khas. Proses perkuliahan yang lazimnya membutuhkan keseriusan akademis tertentu menghasilkan daya tangguh yang harusnya dapat digunakan sebagai bekal setelah lulus. Hal ini merupakan suatu potensi dari para sarjana untuk menyumbangkan berbagai pemikiran dalam bidang studi yang dipilihnya untuk kebaikan masyarakat.

Tanggung jawab yang dapat diemban para sarjana sebagai intelektual misalnya, tidaklah mudah. Diperlukan kedisiplinan tinggi untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran genuine. Juga semacam asketisme yang memerlukan kemauan dan ketahanan pribadi tertentu. Para sarjana demikian menjadi corong untuk mengenalkan sikap analitis, rasional, dan ilmiah.

Jalan lain yang dapat ditempuh adalah menyebarkan semangat berwirausaha. Dalam kondisi ekonomi yang demikian turbulen jiwa berwirausaha menjadi demikian penting. Di sini para sarjana akan menemui pergulatan yang cukup berat, karena pada umumnya kemampuan berwirausaha ini tidak datang dengan sekejap. Tentu saja membutuhkan kemauan dan ketekunan. Pepatah dimana ada kemauan pasti ada jalan rasanya masih berlaku sampai sekarang. Semoga.

Categories: Uncategorized

AKAN, LUPA, dan NANTI DEH

4 Juni 2009 Tinggalkan Komentar

Ini mungkin penyakit akut yang menimpa manusia. Dari jaman dulu sampai jaman modern. Dari jaman batu sampai jaman facebook. Penyakit akan, lupa, dan nanti deh (supaya keren kita singkat aja dengan virus AL1N1)

Penyakit akan biasanya ditimbulkan oleh virus bernama kalau. Biasanya akan muncul karena kalau. Contohnya banyak. Dari mulai yang sederhana sampai ke yang kompleks. Yang sudah terkena penyakit ini gejala-gejalanya suka telatan dalam mengambil tindakan. Pikirnya ia akan bertindak kalau ada prakondisi yang memungkinkannya bertindak. Prakondisi ini sebenarnya wajar seandainya masih realistis. Tapi kenyataannya pengidap virus akan ini sebenarnya hanya penutup luar dari parahnya penyakit ini.

Saya akan lebih menepati jadwal kerja kalau saja saya punya motor.
Saya akan bekerja lebih giat kalau suasana di tempat saya nyaman.
Saya akan rajin menulis kalau saja saya punya komputer.
Saya akan bahagia kalau saya punya uang banyak.

Senarai ini akan terus bertambah kalau dilanjutkan. Menurut logika pernyataan itu mungkin dapat bernilai benar. Jadi ingkaran dari pernyataan di atas dapat saja seperti ini. Saya tidak punya motor jadi tidak dapat menepati jadwal. Saya belum bahagia karena belum mempunyai banyak uang, dan seterusnya. Dari segi logika nampak tidak ada yang salah dengan pernyataan-pernyataan ini. Karena itulah mungkin yang menyebabkan penyakit kalau ini agak sulit diberantas.

Penyakit lupa

Lupa merupakan gejala alamiah manusia. Ia kadang menjadi mekanisme pertahanan diri yang kuat. Tanpa lupa manusia mungkin tak bisa bergerak hidupnya. Dapat dibayangkan seperti apakah manusia yang tidak dapat melupakan pengalaman-pengalaman buruk dalam setiap hidupnya. Kita mengenal hal itu sebagai trauma.

Tapi kebanyakan orang lupa pada hal-hal yang semestinya tidak dilupakan. Ini mengenai mimpi-mimpi, hasrat, dan visi. Karena terlalu asyik mendengarkan orang lain bukan dirinya sendiri orang lupa terhadap impiannya sendiri. Akhirnya ia bukan menjadi diri sendiri. Ia menjadi seperti apa yang dikehendaki orang lain. Ada buku sederhana berjudul Gerhana Terakhir yang ditulis Peter O’ Connor tentang hal ini.

Nanti Deh

Penyakit ini termasuk penyakit gaul yang merupakan endemik. Korbannya sering-sering menunda. Sang korban sering berpikir bahwa waktunya sedemikian banyak. Sehingga kalau ada waktu lain kenapa juga harus dikerjakan sekarang. Nanti kan bisa. Nanti kan lebih leluasa. Nanti kan bisa lebih sempurna.

Epilog

Virus AL1N1 ini menyerangku sampai sekarang. Aku masih dalam terapi pribadi untuk menghilangkan si virus. Gara-gara dia, blog yang aku bikin lama tak ada tulisan dari dulu cuma awalan saja. Tak nambah-nambah. Seorang teman tiba-tiba seakan menyentilku dan menyadarkan aku akan virus berbahaya ini.
(thx mr. tata for inspiring me to unstop writing)

Categories: Uncategorized
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.