Pengenalan Microsoft Excel 2007

27 Januari 2012 Tinggalkan komentar

Microsoft Excel merupakan perangkat lunak untuk mengolah data secara otomatis meliputi perhitungan dasar, penggunaan fungsi-fungsi, pembuatan grafik dan manajemen data. Perangkat lunak ini sangat membantu untuk menyelesaikan permasalahan administratif mulai yang paling sedernaha sampai yang lebih kompleks. Permasalahan sederhana tersebut misalnya membuat rencana kebutuhan barang meliputi nama barang, jumlah barang dan perkiraan harga barang. Permasalahan ini sebenarnya dapat juga diselesaikan menggunakan Microsoft Word karena hanya sedikit memerlukan proses perhitungan, tetapi lebih mudah diselesaikan dengan Microsoft Excel. Contoh permasalahan yang lebih kompleks adalah pembuatan laporan keuangan (general ledger) yang memerlukan banyak perhitungan, manajemen data dengan menampilkan grafik atau pivot tabel atau penggunaan fungsi-fungsi matematis ataupun logika pada sebuah laporan. Penyelesaian permasalahan yang komplek juga dapat memanfaatkan pemograman macro yang disediakan oleh Excel agar proses penggunaan lebih mudah.

1.1 Cara memulai aplikasi Microsoft Excel 2007

Langkah-langkah:

  1. Pilih tombol Start di pojok kiri bawah tampilan windows.
  2. Setelah muncul tampilan menunya pilih Program, kemudian Microsoft Office dan Pilih Microsoft Excel.
  3. Muncul Gambar 1.1

 1.2  Mengenal Elemen-elemen Microsoft Excel 2007

Sebelum melakukan pengolahan data pada Microsoft Excel, terlebih dahulu kita harus mengetahui elemen-elemen yang ada di Microsoft Excel.

Gambar 1.1

Unsur-unsur utama Layar Microsoft Excel 2007:

1) Judul

Judul menampilkan judul program dan dokumen aktif atau nama file dari lembar kerja yang aktif.

 2) Office Button

Berisi barisan perintah untuk pengoperasian Program yang standar misalnya membuat dokumen baru, membuka dokumen lama, menyimpan, mencetak dan mempublish dokumen.

 3) Akses Cepat Toolbar (Quick Access Toolbar)

Merupakan sarana yang disediakan Microsoft Excel untuk mempercepat akses berkomunikasi dengannya misalnya menyimpan, mencetak dan sebagainya.

 4) Toolbar

Merupakan deretan tool-tool (gambar-gambar) yang mewakili perintah dan berfungsi untuk mempermudah dan mengefisienkan pengoperasian program.

 5) Help

Bila kita ingin bertanya sesuatu, maka ketik pertanyaan anda pada tempat tersebut. Ms Excel akan memberikan alternatif jawaban terhadap pertanyaan yang dimaksud.

 6) Lembar Kerja (Workbook)

Baris ini berisikan informasi halaman, section, letak insertion point dan tombol pengendali.

7) Cell

8) Nomor Baris

9) Nomor Kolom

10) Nama Range

11) Fungsi

12) Penggulung vertical dan horisontal

Untuk memudahkan dalam membaca suatu dokumen dengan menggulung layar vertikal dan horisontal.

 1.3 Memulai Buat Dokumen

 Pada sub bab ini, kita akan membuat dokumen sebagai contoh pengelolaan data sederhana. Dari contoh pengelolaan data sederhana kita akan belajar tentang cara pengetikan di excel, alignment, cara memformat huruf, cara memformat tabel dan cell, dan memanfaatkan fasilitas Autofill. Berikut contoh pengelolaan data yang pertama seperti pada Gambar 1.2.

soal olimpiade kimia kabupaten

19 Januari 2012 Tinggalkan komentar

Sudah dua tahun saya membimbing siswa ikut olimpiade walaupun belum memperoleh hasil yang memuaskan. Mudah-mudahan suatu saat nanti ada kemajuan. Berikut saya share soal olimpiade kimia tingkat kabupaten hasil dari search mbah google. Silahkan di klik link berikut:

1. soal-olimpiade-kimia

2. soal_dan_jawaban_soal_kab-2010

Wow, Sedan Lexus Mobil Dinas Gubernur Banten Seharga Rp 2 Miliar

14 Januari 2012 Tinggalkan komentar

[SERANG] Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mengalokasikan anggaran untuk membeli kendaraan dinas baru bagi gubernur dan wakil gubernur Banten terpilih periode 2012-2017 yakni Hj Ratu Atut Chosiyah dan Rano Karno senilai Rp 2 miliar lebih.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Banten Muhadi membenarkan pembelian mobil dinas baru tersebut. Namun, Muhadi mengaku hanya tahu terkait pembelian mobil dinas untuk Wakil Gubernur Rano Karno.

“Kalau untuk Wakil Gubernur Rano Karno itu sudah pasti. Namun, kalau untuk gubernur, saya belum tahu pasti,” ujar Muhadi, Jumat (13/1).

Muhadi juga mengaku tidak mengetahui secara pasti  kapan mobil dinas baru itu akan dibeli. Harganya pun, dia mengaku tidak tahu secara persis. “Kalau mobil dinas untuk wakil gubernur memang sudah dialokasikan. Pembelian mobil dinas baru itu ada proses dan mekanisme yang harus dilalui,” ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Pemprov Banten Sutadi mengungkapkan, Pemprov Banten sudah mengalokasikan anggaran Rp 2 miliar lebih dari APBD 2012 untuk pembelian mobil baru bagi gubernur dan wakil gubernur Banten.

Dia menjelaskan, harga untuk satu unit pengadaan mobil dinas sekitar  Rp 1 miliar lebih, dengan jenis kendaraan sedan mewah Lexus. “Pengadaan dua unit mobil baru tersebut dimulai April 2012 nanti melalui proses tender,” ungkap Sutadi.

Menurut Sutadi  pembelian dua unit mobil dinas baru itu dilakukan, karena kendaraan dinas gubernur dan wakil gubernur Banten yang ada saat ini kurang memadai. Oleh karena itu, perlu dilakukan penggantian. “Kendaraan dinas yang lama akan ditarik, diganti dengan mobil dinas yang baru. Semuanya akan disesuaikan dengan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Penggunaan APBD Banten,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Banten Rano Karno mengaku, dirinya akan menggunakan kendaraan dinas lama atau bekas mantan Wakil Gubernur HM Masduki. “Kepenginnya sih, saya pake kendaraan oplet, tapi kagak enak sama yang lain. Biarlah saya menggunakan kendaraan dinas wakil gubernur yang sudah ada,” kata Rano.

Mantan wakil bupati Tangerang ini pada hari pertama kerja, tidak menggunakan kendaraan dinas wakil gubernur Banten. Namun pemain sinetron Si Doel ini menggunakan kendaraan pribadi jenis Toyota Fortuner warna hitam dengan plat nomor polisi B 1068 KJB. ”Saya masih menggunakan kendaraan pribadi. Kalau sudah ada kendaraan dinas wakil gubernurnya saya pake untuk keperluan tugas,” ujarnya.

Untuk diketahui,  Wakil Gubernur Banten sebelumnya yakni HM Masduki mendapatkan fasilitas dua unit kendaraan operasional, masing-masing mobil Toyota Land Cruiser mengunakan mesin 4000 cc dan Toyota Camry menggunakan mesin 3500 cc. [149]

sumber berita: suarapembaharuan.com

Kisi-kisi UN 2011/2012

12 Januari 2012 Tinggalkan komentar

Kisi-kisi Ujian Nasional 2011/2012 untuk SMP, MTs, SMPLB, SMA, MA, SMALB, dan SMK dapat di download DISINI

POS UN 2012

Bagi guru-guru yang memerlukan panduan pelaksanaan Ujian Nasional dapat di lihat DISINI

Dalam Islam Pendidikan Ibarat Bercocok Tanam

Dalam bahasa Arab, istilah pendidikan disebut tarbiyah, sebuah kata yang sarat makna yang masih seakar dengan kata riba (uang yang selalu berkembang), rabwah (tanah tinggi), dan rabb (sifat Allah yang senantiasa memelihara, mencintai, dan mendidik).

Pendidikan Islam secara umum adalah upaya sistematis untuk membantu anak didik agar tumbuh berkembang mengaktualkan potensinya berdasarkan kaidah-kaidah moral Alquran, ilmu pengetahuan, dan keterampilan hidup. Dengan ungkapan normatif keagamaan, pendidikan berfungsi memfasilitasi agar seseorang tumbuh menjadi pribadi yang hidup berlandaskan tauhid atau abdullah. Secara vertikal, pribadi demikian hanya mau bersujud di hadapan kebesaran Allah, menyatakan haram menyembah sosok manusia ataupun jabatan.

Jika seseorang telah menjadi abdullah, dia juga memiliki misi sebagai khalifatullah untuk mewujudkan sifat Ilahi dalam aktivitas hidupnya. Sistem sekolah adalah salah satu bagian saja dari sebuah proses pendidikan yang cakupannya begitu luas dan prosesnya berlangsung sepanjang hayat.

Disayangkan, ada kecenderungan pemahaman dan proses pendidikan ini telah direduksi menjadi sebuah sekolah di ruang tertutup yang mengandalkan kurikulum serta tatap muka antara guru dan murid di kelas. Rendahnya mutu pendidikan nasional berakibat langsung pada rendahnya mutu SDM umat Islam.

Apalagi citra pelajar tengah terganggu oleh citra negatif, baik yang dikaitkan dengan narkoba, perkelahian, budaya menyontek, maupun pergaulan bebas. Ini semua membuat potret dunia pendidikan di Indonesia kelihatan suram dan pesimistis.

Sesungguhnya dunia pesantren memiliki aset dan dimensi pendidikan yang amat berharga untuk memajukan pendidikan dan memberdayakan potensi masyarakat. Sayangnya, potensi unggul pesantren yang begitu murah, merakyat, dan mengajarkan keterampilan hidup kurang diapresiasi dan didukung secara optimal dengan memasukkan komponen modern.

Kita perlu merenung, berapa banyak energi umat Islam telah terbuang untuk hal-hal yang tidak produktif. Konflik sektarian telah menguras aset umat Islam, sementara dunia pendidikan telantar. Islam tidak lagi menjadi pusat peradaban dunia karena perhatian kita semakin kecil dalam upaya mengembangkan lembaga keilmuan, riset, dan peradaban.

Kita mesti hemat dalam membelanjakan uang pribadi maupun negara, kecuali dalam satu hal, yaitu pendidikan. Itulah yang dilakukan Korea Selatan dan Malaysia yang telah dimulai pada dekade 1970-an dan kini mereka menuai hasilnya. Sementara itu, Indonesia lebih senang membangun beton-beton dan hidup konsumtif-koruptif.

Membangun generasi, sedikitnya memerlukan waktu 20-25 tahun, sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Artinya, selama masa penantian itu kita harus kerja keras merawat “tanaman” kita sambil berpuasa; menahan diri dari hidup mewah. Kalau gaya hidup konsumtif-koruptif terus berlanjut sehingga investasi manusia melalui program pendidikan tetap telantar, tak ayal ini artinya kita tengah menghancurkan rumah bangsa sendiri. Hancurnya peradaban dunia disebabkan minimnya kepedulian kita pada pengembangan pusat-pusat pendidikan yang bermutu.

*tulisan KH Said Aqiel Siradj diambil dari http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/07/14/lobirg-dalam-islam-pendidikan-ibarat-bercocok-tanam

 

Categories: Kutipan Tag:

Banten, Hikayat Kerbau di Ladang Pabrik

26 April 2010 1 komentar

200 Tahun Anjer-Panaroekan

Banten, Hikayat Kerbau di Ladang Pabrik*

Oleh: Anita Yossihara dan Ahmad Arif

Jalan itu mulus. Aspal hitam melapisi permukaannya. Asap cerobong pabrik kimia memagari tepiannya. Seorang lelaki renta menggiring lima kerbau di sana.

Seorang anak muda memungut botol bekas di saluran air. Lelaki renta itu menyapa, kemudian berlalu. Ia bergegas mengiringi kerbau-kerbaunya. Jalan mulai menanjak.

Sukra, nama lelaki itu, berhenti di rumahnya. Rumah renta, setua usianya yang 84 tahun. Dari beranda rumahnya, jantung kawasan industri Pancapuri, Cilegon, Banten, terlihat jelas. Saat malam, cahaya lampu pabrik berpendar seperti bintang.

Pabrik-pabrik itu teramat dekat dengan Sukra, tetapi terasa jauh. Sukra tak pernah mencicipi legit kerja di proyek, apalagi bekerja di pabrik. Janji-janji kemudahan lapangan kerja pada awal pendirian pabrik hanyalah pepesan kosong.

Pada kerbau-kerbau itulah harapan Sukra disandarkan. Seekor kerbau miliknya dan empat ekor milik orang lain. Sukra tak pernah membedakannya.

Melihat Sukra dengan kerbau-kerbaunya mengingatkan pada fragmen Saijah dan Adinda dengan kerbau-kerbau mereka, seperti yang ditulis Multatuli –nama samaran Douwes Dekker – dalam Max havelaar, tahun 1860. “… kemudian larilah ayah Saijah meninggalkan desanya sebab ia merasa sangat takut dijatuhi hukuman jika ia tidak membayar pajak tanahnya. Padahal, ia sudah tidak mempunyai peninggalan apa-apa lagi untuk membeli kerbau baru,” tulis Deuwes Dekker. Berulang kali, kerbau-kerbau ayah Saijah kemudian dirampas oleh Kepala Distrik Parungkujang, Lebak. Dalam pelariannya, ayah Saijah kemudian ditangkap dan mati di penjara. Pada akhir fragmen, seluruh tokohnya mati.

Fragmen itu menuturkan kemiskinan dan penderitaan rakyat Banten karena dihisap penguasa pribumi  yang bersekutu dengan penjajah Belanda. Penderitaan yang bermula dari diambilnya kerbau, harta paling berharga bagi petani. Tanpa kerbau, mereka tak bisa menggarap ladang. Tanpa panenan mereka tak bisa membayar pajak.

Hampir 150 tahun kemudian, fragmen itu terasa masih relevan untuk menggambarkan satu sisi wajah Banten. Bahkan setiap kali fragmen itu menemukan bentuknya yang lebih pedih. Jika dulu yang dirampas adalah kerbau, saat ini petani kehilangan tanah.

Tanah

Bojonegara, pesisir barat Banten, siang itu sangat panas. Matahari kemarau mencipta tanah retak. Ramsiah (45) menyiram tanaman timun suri dari sumur gali di tengah sawah. Bulan puasa hampir tiba, bulan dimana Ramsiah bisa menjual timun suri sebagai makanan berbuka.

Ramsiah berpeluh, tetapi tak mau berhenti. Sawah warisan satu-satunya itu sudah bukan miliknya lagi. Ramsiah menunggu waktu sebelum ladangnya diambil untuk diubah menjadi pabrik.

Kesenjangan

Dua ratus tahun sejak Herman Willem Dandells menginjakkan kaki di tanah Banten, Januari 1808, wajah luar kawasan ujung barat pulau Jawa ini mulai berubah banyak. Dimulai ketika tahun 1970-an ketika pemerintah membangun kawasan industri di sana. Pabrik raksasa menjamur, sebagian di antaranya perusahaan asing. Hingga akhir tahun 2007, sedikitnya ada 1500 industri di Banten.

Pendapatan domestik regional bruto (PDRB) di Banten pun terdongkrak dengan maraknya industri. Tahun 2002  nilai PDRB Banten Rp 60,35 triliun. Setahun kemudian meningkat menjadi Rp 66,87 triliun. Tahun 2004 melompat menjadi 75,56 triliun, tahun 2005 naik lagi menjadi Rp 83,77 triliun. Setahun kemudian semakin tinggi, Rp 94,42 triliun.

Namun, pesatnya pertumbuhan industri yang diiringi PDRB Banten tak berbanding lurus dengan kesejahteraan warganya. Sebagian besar warga belum terserap ke industri. Mereka yang bekerja di sektor industri kebanyakan juga di level rendah, seperti tenaga buruh, petugas satpam, dan pegawai rendahan.

Banten tetap menjadi salah satu propinsi termiskin di Pulau Jawa. Data survei sosial ekonomi nasional tahun 2006 menunjukkan, jumlah penduduk miskin di Banten mencapai 904 keluarga (9,79 persen). Dari sekitar 6,1 juta pekerja di sektor informal dan 26,91 persen di antaranya bekerja di sektor pertanian. Industri pengolahan yang merupakan penyumbang PDRB hanya menampung 22,85 persen tenaga kerja. Angka ini lebih kecil dibandingkan pengangguran yang mencapai 28,01 persen.

Kondisi itu terjadi karena rendahnya tingkat pendidikan dan kompetensi penduduk Banten. Dari 7,1 juta penduduk usia kerja, 32,18 persen di antaranya hanya lulus SD. Sebanyak 26,8 persen tidak tamat SD, lulusan SMP 17,54 persen, lulusan SMK 3,89 persen, diploma 1,89 persen, S1 1,86 persen, serta S-2 dan S-3 0,1 persen.

Jika sebagian besar warga menggantungkan hidupnya pada pertanian karena memang tak sanggup masuk ke sektor industri, apa jadinya jika lahan pertanian rakyat itu terus menipis karena diambil alih industri?

Catatan: Tulisan ini dikutip utuh dari harian Kompas edisi 22-08-08 hampir dua tahun yang  lalu. Saya temukan tulisan ini dalam sedikit kliping artikel yang saya niliki Saya tidak tahu benar kondisi sekarang apakah Banten sudah berubah ataukah jalan di tempat. Tetapi barangkali sekali-kali perlu juga kita yang mengaku wong Banten ini mendengarkan apa kata orang “luar” tentang diri kita. Bisa jadi potret semacam itu lebih jujur ketimbang berbagai macam klaim kemajuan Banten  yang kadang hanya menjadi retorika kampanye. Kalau potret itu begitu kelam tak perlu marah dan menyalahkan orang lain. Juga tak perlu menjadi pesimis. Rasanya itu dapat dijadikan semacam refleksi untuk menatap masa depan Banten yang lebih baik.

Categories: banten, Kutipan

Antara Shalat dan Maksiat*

9 Juli 2009 2 komentar

“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. 29 : 45)

Berdasarkan zahir ayat ini, setiap orang yang shalat tidak akan melakukan perbuatan keji dan mungkar. Tapi, hal ini bertentangan dengan realita di lapangan. Banyak orang shalat tapi mencuri, korupsi, bohongnya tetap jalan. Bahkan, ada orang yang shalat tapi ia tetap melakukan dosa besar.

Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa beberapa sahabat menanyakan kepada Rasulullah saw perihal seseorang yang suka berbuat maksiat, tapi shalat tidak pernah dia tinggalkan. Rasulullah saw menjawab “Suatu saat nanti shalatnya akan mencegahnya dari maksiat itu.” Tidak lama kemudian terdengar kabar bahwa orang itu telah tobat.

Jika kita tinjau dari sisi bahasa mencegah atau melarang adalah semacam perintah untuk meninggalkan sesuatu. Larangan sebagaimana perintah bukan berarti membelenggu dan merantai sehingga orang tidak bisa bergerak. Tapi dia tak lebih dari ajakan yang meminta seseorang untuk meninggalkan sesuatu. Merupakan tabiat sebuah ajakan bahwa terealisasi atau tidaknya larangan tersebut kembali kepada orang yang dilarang. Seperti ketika Allah melarang manusia berbuat dosa. Tapi tetap saja ada manusia yang melakukannya.

Diantara keajaiban shalat, ia menghadirkan perasaan menyesal dan bersalah pada orang yang melakukan maksiat. Berbeda dengan ibadah lainnya yang bisa diolah setan untuk dijadikan pembenaran terhadap sebuah kesalahan. Seperti ibadah zakat. Seorang koruptur dan perampok –dengan bisikan setan- merasa bahwa dengan mengeluarkan zakat korupsi dan perampokannya akan diampuni. Atau setan membisikan bahwa tindakan korupsinya adalah sebuah tindakan yang benar karena menjadi jalan kebaikan bagi orang miskin yang menerima zakat. Sehingga dia semakin semangat untuk melakukan aksinya itu. Sementara ketika shalat, bisikan-bisikan pembenaran terhadap maksiat biasanya tidak muncul. Yang muncul dan menghantui justru perasaan bersalah dan menyesal. Sehingga orang yang melakukan maksiat sebelum shalat biasanya untuk berdoa tidak percaya diri.

Bagi seorang yang menjaga shalat sekaligus pecandu maksiat penyesalan dan perasaan bersalah akan terus menghantui selama dia menjaga shalatnya. Minimal lima kali sehari perasaan itu mengetuk dan membuat nuraninya memberontak.

Agar terhindar dari perasaan itu dia terdesak pada dua pilihan, menunaikan shalat dan meninggalkan maksiat atau tetap bermaksiat tapi meninggalkan shalat. Salah satu dari dua pilihan itu mesti dia ambil. Jika tidak, perasaan itu akan terus muncul minimal lima kali sehari, yaitu ketika dia shalat.

Orang yang mengambil pilihan pertama, menjaga shalat dan meninggalkan maksiat, pada awalnya barangkali akan merasa berat ketika godaan-godaan maksiat itu datang. Namun ketika shalat dia akan aman dan khusu’ bebas dari penyesalan dan perasaan bersalah. Sehingga,dia pun percaya diri ketika menengadahkan tangan berdoa kepada-Nya. Sementara yang mengambil pilihan kedua, tetap bermaksiat dan meninggalkan shalat akan semakin larut dalam maksiatnya. Perasaan bersalah dan menyesal yang selama ini muncul lima kali sehari sudah tidak ada lagi. Semakin lama dia akan semakin larut dan terkubur dalam jurang maksiat. Pilihan itu mesti dia ambil karena shalat dan maksiat selamanya tidak akan bisa disatukan

* Dikutip dari http://eramuslim.com/oase-iman/antara-shalat-dan-maksiat.htm

Categories: Uncategorized Tag:

Mencari Makna dan Realisasi Taqwa

Seberapa sering kita mendengar kata taqwa? Rasanya cukup sering. Kata ini bukan saja didengungkan para khatib di mimbar-mimbar masjid yang mulia, tetapi juga telah masuk ke sendi-sendi kehidupan kita. Bahkan ia menjadi syarat nomor satu untuk jabatan-jabatan tertentu. Taqwa juga menjadi salah satu tujuan dari pendidikan nasional kita.

Alhamdulillah. Kata taqwa menjadi milik kita semua. Tapi ada bahaya di sini. Tanpa pemaknaan dan pendalaman kata ini menjadi sedemikian lumrah. Kita tahu ketinggian makna dan kemuliaan orang yang memilikinya tapi juga menjadi sedemikian asing. Taqwa menjadi kata-kata indah tapi juga tak terjangkau. Adakah kita termasuk orang-orang yang bertaqwa?

Bila khatib naik mimbar dimulai dengan menyampaikan puji-pujian kepada Allah dilanjutkan dengan pesan taqwa. Para jamaah mulai menundukkan kepala tampak khusyu. Tengkuk agak ditekuk kedepan. Suara khatib mulai terdengar pelan. Pelan… dan pelan sampai tak terdengar. Itulah ritual rutin kita setiap jum’at. Begitu juga saya ketika selepas SMA. Teman saya menyentuh saya dengan tangannya. Ia isyaratkan tangannya memencet-mencet jempol kaki untuk menghilangkan kantuk. Saya ikuti dia dan paham maksudnya: dengarkan kalau khatib sedang naik mimbar jangan sampai tidur!

Dari Abu Dzar dan Muadz bin Jabal, Rasulullah bersabda: bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan berbuat baik niscaya kebaikan itu menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji. (Hr. Tirmidzi). Itulah pesan taqwa, pesan utama yang selalu disampaikan Nabi, juga dalam setiap khutbahnya. Dikuti oleh para sahabat yang selalu mengikutinya. Bila diminta memberikan nasihat, selalu: bertaqwalah kalian kepada Allah…

Pesan taqwa itu pun terus bersambung ke kita khususnya dalam setiap mimbar jumat. Apa sebenarnya makna taqwa? Berkata Ali bin Abi Thalib ra. Taqwa adalah takut kepada Allah, beramal sesuai Al-quran, menerima yang sedikit, dan bersiap-siap untuk menghadapi hari akhir. Hasan Al-bashri mengatakan “orang bertaqwa adalah mereka yang menjaga dari apa-apa yang Allah haramkan atas mereka, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban Allah atas mereka”.

Taqwa itu bukan sekadar ucapan belaka tapi juga terus terealisasi dalam kehidupan bahkan setelah Nabi tiada. Suatu hari kalifah Umar bin Khatab ra berkeliling meninjau rakyatnya dan mendapati seorang anak gembala yang menggiring banyak domba. Bertanya Umar apakah domba-domba itu miliknya. Si anak menjawab domba itu milik tuannya. Umar mengetes si anak untuk menjual seekor hanya seekor saja. Anak itu menolak. Umar terus merajuk mengatakan toh tuan anak itu tak bakal tahu. Hanya satu domba di antara banyak dombanya. Kalau saja anak itu mau mengatakan salah satu domba itu diterkam serigala tentu tuannya bakal percaya.

Anak itu tetap menolak dan Umar melakukan serangan terakhir menggunakan ‘keangkeran’ namanya. Umar kembali merajuk anak itu dengan mengatakan bahkan khalifah Umar pun belum tentu tahu jika saja anak itu mau menjual seekor dombanya. Maka si anak melontarkan perkataan tegas yang selamanya akan dikenang: khalifah Umar mungkin tidak bakal tahu. Tapi dimanakah Allah? Maka Umar pun memuji Allah dan mendoakan keberkahan pada anak itu.

Kita rindu ketaqwaan mendapatkan bentuk konkretnya di tengah-tengah kehidupan kita seperti di padang gembala pada zaman Umar itu. Di pasar-pasar, sekolah-sekolah, di warnet-warnet, di sawah-sawah, di hutan-hutan, di padang gembala, terlebih di masjid-masjid yang dimuliakan. Ketaqwaan akhirnya menjadi barometer kehidupan bukan keturunan, kedudukan, pangkat, jabatan atau pun harta. Sebagai mana realisasi dari firman Allah: sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.

Thalaq bin Habib rhm. ketika ditanya tentang tanda-tanda ketaqwaan mengatakan: berbuat kebaikan adalah cahaya dari Allah yang mengharapkan balasan kebaikan, sedangkan meninggalkan maksiat adalah cahaya Allah karena rasa takut dengan adzab-Nya.

Taqwa itulah yang merupakan wasiat Allah SWT untuk seluruh generasi umat manusia, sejak yang pertama hingga yang terakhir: dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertaqwalah kepada Allah. (QS. Nisa’:131)

Bila pesan taqwa itu terus didengarkan, dipahami, dan terus berusaha diimplementasikan kita yakin cita-cita suatu masyrakat yang diridhai Allah akan tercapai. Jikalau sekiranya penduduk suatu kaum beriman dan bertaqwa akan kami bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.

Sumber bacaan: kamus Al-Mukhtar, Tim Kajian Al-kitabah, Pustaka    Arafah, 2004.

Dr. Shalih bin Ibrahim, Inilah Takwa &  buahnya, eLBa, 2006.

Categories: Uncategorized

GELAR PENGANGGUR DITANGAN SARJANA

19 Juni 2009 1 komentar

Bagaimana pun sedih penganggur buta-aksara, penganggur sarjana lebih sengsara. Kalimat itu dilontarkan Fuad Hassan menteri pendidikan dan kebudayaan pada jaman Orde Baru pada saat Rapat Kerja Rektor IKIP dan Dekan FKIP. Keseluruhan isi sambutan yang telah didokumentasikan itu sendiri berisi keprihatinan beliau dan antisipasi pada fenomena jumlah pengangguran terdidik yang semakin menunjukkan peningkatan (1991: 141).

Kini, peningkatan jumlah pengangguran terdidik semakin mengkhawatirkan. Sebanyak 4,5 juta penganggur terbuka di Indonesia adalah penganggur terdidik. Persentase peningkatannya sendiri semakin besar dari 17 persen (1994) menjadi 26 persen (2004) dan kini mencapai 50,3 persen.

Peningkatan pengangguran terjadi karena penyerapan tenaga kerja tidak sesuai dengan kuantitas lulusan dari berbagai jenjang pendidikan. Tidak heran bila dalam suatu pameran bursa tenaga kerja peminat yang hadir selalu membludak. Pengunjung rela mengantre lama bahkan berdesak-desakkan untuk mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.

Fenomena peningkatan jumlah penganggur terdidik menyiratkan beberapa gejala yang dapat kita amati. Pertama, dunia kerja semakin mensyaratkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dulu tamat sekolah setingkat SMA sudah dianggap cukup untuk memasuki berbagai lapangan pekerjaan yang layak. Sekarang mungkin untuk pekerjaan yang sejenis dibutuhkan kualifikasi setingkat diploma atau bahkan lebih tinggi lagi.

Kedua, persaingan dunia kerja kini kita rasakan semakin keras. Lulusan perguruan tinggi yang membludak semakin bersaing untuk mendapatkan “kue” dunia kerja. Rasio antara jumlah lowongan dan pencari kerja semakin kecil. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Tangerang, misalnya, mencatat jumlah pengangguran yang mencapai 272.500 orang. Dengan jumlah pencari kerja sebanyak 79.182 orang yang dapat tertampung hanya 14.675 orang (Baraya Post, 27/07/08). Untuk ukuran kabubaten dengan jumlah industri yang cukup banyak, angka-angka tersebut cukup memprihatinkan.

Pendidikan Tinggi

Ada semacam jebakan bagi dunia pendidikan dalam menghadapi tuntutan dunia kerja sekarang ini. Permintaan yang tinggi terhadap kualifikasi lulusan pencari kerja menjadi lahan bisnis pendidikan yang menggiurkan. Hal ini logis karena masyarakat pada akhirnya menjadi semakin melek akan pentingnya pendidikan. Namun demikian membuka lembaga pendidikan baru hanya semata-mata memenuhi permintaan pasar akan mengkerdilkan visi pendidikan itu sendiri.

Kasus ijazah palsu dan jual beli gelar semakin menegaskah keterkaitan adanya permintaan yang tinggi itu. Di sini ada paradoks. Di satu sisi masyarakat menyadari adanya tuntutan yang semakin tinggi terhadap kualifikasi pendidikan. Tapi di sisi lain adanya kecenderungan untuk mereduksi makna pendidikan semata-mata terdapat pada gelar. Gelar akhirnya dianggap segalanya dan diusahakan didapatkan dengan berbagai cara yang justru bertentangan dengan makna pendidikan itu sendiri.

Tantangan berat kini dihadapi oleh lembaga perguruan tinggi sebagai penghasil sarjana. Semakin maraknya penganggur sarjana merupakan kritik tidak langsung terhadap proses pengelolaan PT. Apakah proses perkuliahan agar sampai benar-benar efektif dan berkualitas hingga pertanyaan terhadap relevansi pembukaan berbagai jurusan. Bagaimana pun sudah semestinya pembukaan suatu jurusan PT memperhatikan relevansinya dengan dunia kerja.

Itu bukan berarti menjadikan PT bersifat pragmatis belaka tanpa memperhatikan kedalaman proses akademis para mahasiswanya. Disinilah tantangannya memadukan kompetensi kerja dan pencapaian visi lembaga PT itu sendiri.

Sudah saatnya pendidikan tinggi memfokuskan visinya pada pencapaian kualitas lulusan berdasarkan kompetensi. Kompetensi itu bukan saja yang dibutuhkan untuk menghadapi persaingan kerja lebih jauh dapat diarahkan untuk mencapai kualitas lulusan pencipta lapangan kerja. Disinilah relevansinya untuk memperluas wawasan enterpreunerships para mahasiswa calon sarjana. Tidak mudah memang dan dibutuhkan visi yang serius bagi pengelola PT.

Introspeksi

Peningkatan penganggur dari kalangan terdidik khususnya sarjana membutuhkan keseriusan dari semua pihak termasuk para pengambil kebijakan. Namun demikian dibutuhkan keberanian juga dari penganggur sarjana untuk melakukan introspeksi diri.

Dunia kini semakin global namun demikian bagian-bagian yang mempunyai ciri khas akan semakin berpengaruh. Karena itu para sarjana tidak cukup hanya memiliki kemampuan-kemampuan yang memang kini semakin lumrah. Kemampuan berbahasa asing dan menguasai teknologi sebagai salah satu contoh yang kini semakin lumrah dan menjadi tuntutan. Selain itu diperlukan keterampilan intrapersonal dan interpersonal sebagai penunjang kesuksesan..

Salah satu keterampilan yang penting dimiliki yaitu kemampuan untuk melakukan introspeksi yang merupakan kritik terhadap diri sendiri. Hal ini mensyaratkan kemauan untuk menerima diri apa adanya. Belajar mengenal lebih dalam semua potensi yang dimiliki oleh pribadi sehingga dapat dioptimalkan dengan maksimal.

Predikat gelar sarjana yang disandang merupakan suatu prestise tersendiri. Namun, pada kondisi yang tidak diharapkan, menganggur misalnya, justru predikat sarjana itu akan menjadi beban psikologis yang cukup berat. Diperlukan kelapangan untuk menyadari beban berat itu. Sehingga tidak ada upaya untuk menyalahkan pihak lain untuk mengurangi beban itu. Yang diperlukan adalah penyadaran terhadap beban itu untuk memikul tanggung jawab yang semestinya dapat dilakukan.

Pada umumnya para sarjana setelah melewati jenjang perguruan tinggi memiliki kualifikasi tertentu yang khas. Proses perkuliahan yang lazimnya membutuhkan keseriusan akademis tertentu menghasilkan daya tangguh yang harusnya dapat digunakan sebagai bekal setelah lulus. Hal ini merupakan suatu potensi dari para sarjana untuk menyumbangkan berbagai pemikiran dalam bidang studi yang dipilihnya untuk kebaikan masyarakat.

Tanggung jawab yang dapat diemban para sarjana sebagai intelektual misalnya, tidaklah mudah. Diperlukan kedisiplinan tinggi untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran genuine. Juga semacam asketisme yang memerlukan kemauan dan ketahanan pribadi tertentu. Para sarjana demikian menjadi corong untuk mengenalkan sikap analitis, rasional, dan ilmiah.

Jalan lain yang dapat ditempuh adalah menyebarkan semangat berwirausaha. Dalam kondisi ekonomi yang demikian turbulen jiwa berwirausaha menjadi demikian penting. Di sini para sarjana akan menemui pergulatan yang cukup berat, karena pada umumnya kemampuan berwirausaha ini tidak datang dengan sekejap. Tentu saja membutuhkan kemauan dan ketekunan. Pepatah dimana ada kemauan pasti ada jalan rasanya masih berlaku sampai sekarang. Semoga.

Categories: Uncategorized Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.